Luka ini sudah aku coba sumbat dengan bajuku, tapi darah masih saja mengalir dari sela-sela kain. Sementara engkau hanya berdiri menatapku tanpa ekspresi. Aku masih mencoba menahan agar darah ini tidak keluar dari luka yg terbuka lebar. Sambil merintih kesakitan, aku mencoba untuk bersandar di dinding, dengan harapan bisa mengurangi sakit. Tapi ternyata tidak. Sakit luar biasa menyerang seluruh tubuhku. Belum lagi peluh membasahi seluruh tubuh, hingga seluruh pakaian basah.
Tidak ada usaha darimu untuk membantuku. Engkau sekali lagi hanya berdiri diam, sambil sesekali memiringkan kepala. Pisau penuh darah tergeletak tak jauh dari posisimu berdiri. Tanganmu berlumur darah.
Masih darah ini mengalir tak henti. Aku mulai lemas dan pening. Aku menatapmu dengan amarah dan dendam. Namun aku tak bisa apa-apa. Darah yang keluar dari perutku yang sobek, membuatku tidak bisa bergerak banyak.
Sungguh aku tak menyangka engkau akan melakukan hal ini terhadapku. Baru saja kita bercengkrama mesra dalam ruangan ini. Engkau memuji gaun merahku yang baru, khusus aku beli di butik. Baru saja engkau menggenggam jemariku dengan lembut, sambil sesekali mengecupnya.
Tiba-tiba saja sebilah pisau engkau keluarkan dari saku jasmu. Dengan wajah yang tak lagi ramah, engkau langsung saja menghunus perutku. Aku berteriak kesakitan, terjatuh dari sofa. Tak kuasa aku melihat darah yang keluar dari luka yg menganga di perutku. Dia tak hanya menikam perutku, tapi juga merobeknya.
Masih aku terduduk bersandar di dinding sambil ku pegangi perutku. Darah sudah menggenangi lantai. Bau anyir memenuhi ruangan. Engkau duduk di sofa tempat kita bermesraan, sambil mencoba menghilangkan bekas darah di tangannya dengan handuk. Masih engkau tak bersuara. Juga tidak melakukan sesuatu apapun.
Esok hari aku ditemukan tak bernyawa, masih dalam posisi terduduk di dinding. Ada coretan di dinding dengan darahku ‘SELAMANYA MILIKKU.’

No comments:
Post a Comment