Thursday, July 4, 2013

Kalau Mau Jadi Teman, Bukan Jadi Sahabat

1. Kalau seperti saya yang berteman saja sudah membuat kewalahan, jangan berani-berani berkomitmen menjadu sahabat. Teman dan sahabat bedanya seperti musim panas dan musim dingin…
2. Huh? Komitmen? Memang ada komitmen kalau jadi sahabat? Ini jawaban murni saya, “Yaa.. iyalaahhh….” Kalau Anda tak setuju, gak papa juga. Nurani Anda dan saya kan beda. Nurani orang egois dan yang tidak, itu beda!
3. Saya yakinkan Anda tak akan pernah jadi teman yang baik selamanya. Jadi jangan coba-coba jadi teman sempurna. Sempurna itu tidak ada. Akan datang masanya kebaikan Anda akan dilupakan karena kesalahan yang Anda buat. Maka, percayalah pada peribahasa, karena nilai setitik rusak susu sebelanga. Tetapi, saya membaca kutipan dari penulis Amerika seperti ini: You can kiss your family and friends god-bye and put and put miles between you, but at the same time you carry them with you in your heart, your mind, your stomach, because you do not just live in a world bue a world lives in you (Frederich Buechner).
4. Siapkan diri sebelum mulut mengatakan mau berteman. Saya tersinggung ketika beberapa kali teman saya mengajak temannya berkenalan dengan saya. Jawabannya selalu sama, “Aduh gue enggak siap, ntar dulu deh kenalan sama Samuel.”
Persiapannya lebih mental daripada mulut. Mental itu untuk menerima manusia bernama teman dengan segala perilakunya. Nah, untuk semua itu Anda benar-benar harus siap supaya jang kesal dibuatnya.
5. Ingat, teman Anda adalah manusia! Manusia itu berubah. Kadang itu mengecawakan. Kalau itu terjadi, mulutnya dilem saja. Saya punya lem yang sekali dioleskan tak bisa dilepaskan. Hubungi saya kalau perlu satu tube.
6. Terima saja manusia itu apa adanya. Jangan ada harapan dalam berteman. Tak ada gunanya. Menerima itu gampang dikatakan, susah dilakoni. Itu pekerjaan rumah kalau Anda mau berteman. Bukankah dalam hidup ada harga dan risiko yang harus Anda bayar & tanggung?
7. Buat jarak dengan teman. Itu penting. Kalau tidak, keretakan pertemanan lebih muda terjadi. Makanya jangan pernah mencintai manusia 100%. Mereka bisa mengecewakan. Seratus persen itu cuma buat Sang Khalik. Ditanggung tak pernah mengecewakan.
8. Pilih teman Anda. Itu perlu. Kalau bisa yang membuat Anda maju ke depan dan tidak mundur ke belakang. Maksud saya, maju ke depan itu bukan ke depan jurang juga.

(SAMUEL MULIA)
Kompas, 20 Des. 2009

No comments:

Post a Comment